saham "supermarket"

n-yorkcity.me


saham "supermarket"


Apa yang pertama kali terpikir di benak anda ketika mendengar kata supermarket? pasti akan identik dengan jumlah pilihan barang yang banyak, ramai, bermacam-macam bahkan sangking banyaknya piligan mungkin akan membuat kita bingung untuk memili dalam berinvestasi saham pun bisa jadi kita akan menjumpai investor yang mempunyai saham supermarket.

Saham supermarket di sini bukan berarti kita membeli saham­saham perusahaan supermarket yang ada di Indone­ sia, namun istilah “supermarket” ini lebih diartikan ketika seorang investor membeli saham dalam jumlah banyak.

Ketika kita memutuskan untuk mulai berinvestasi saham dan menjadi seorang investor saham pemula, alangkah baik­ nya jumlah saham yang kita beli tidak terlalu banyak. Banyak di sini memang artinya relatif, berbeda­beda untuk setiap orang. Ada seorang investor pemula yang membeli 5 saham sudah menyebutnya banyak. Ada yang membeli saham sam­ pai 30 jenis saham baru menyebutnya banyak. Namun kita bisa menyamakan definisi “banyak” di sini memiliki arti ketika kita membeli saham dalam jumlah berapa pun lalu kita mengalami kesulitan untuk memantau portofolio kita dengan fokus, di titik itulah bisa kita sebut bahwa kita mem­ punyai saham “supermarket.”

Kita perlu menyadari bahwa tingkat kefokusan manu­ sia tentunya terbatas, semakin banyak hal yang dipikirkan maka secara otomatis akan membuat fokusnya terbagi men­ jadi lebih banyak, sehingga bisa berakibat munculnya ke­ putusan­keputusan yang kurang rasional atau bijak dari da­ lam diri seseorang.

Dari ketiga contoh ilustrasi portofolio di atas, kira kira portofolio mana yang menurut Anda pusing untuk dilihat atau dipantau? Mungkin banyak yang akan menjawab portofolio terakhirlah yang paling pusing untuk dilihat atau dipantau. Jika iya, maka Anda bisa menyebut portofolio tersebut merupakan saham “supermarket.”

Kita bisa melihat perbedaan jumlah saham yang dibeli oleh ketiga orang tersebut. Bagi yang membeli satu atau dua saham, mungkin secara logika masih sangat mudah untuk memantaunya sewaktu­waktu, sehingga investor pun bisa fokus memantau dalam setiap pengambilan keputusan, apakah harus menjualnya dulu, atau cut loss atau tetap di­ tahan (hold).

Berbeda kasusnya dengan investor yang memiliki saham “supermarket” seperti portofolio milik Pak DD, dia memi­ liki 17 saham. Bayangkan jika Anda di posisi Pak DD, pada suatu hari dari 17 saham itu banyak yang sedang turun harganya, kira­kira apa yang harus Anda lakukan? Tentu­ nya Anda akan cenderung mengalami kebingungan sebelum mengambil keputusan. Di situlah Anda akan mulai merasa tidak fokus karena bingung saham mana yang harus Anda prioritaskan untuk dijual dulu atau hold.

Jika Anda ingin menjadi seorang trader maupun investor jangka panjang, sebaiknya hindarilah saham “supermarket” ini terutama bagi anda yang ingin menjadi trader psikologi trading anda akan terganggu jika memiliki saham "supermarket".

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah berapa idealnya jumlah saham yang bisa kita beli? ada banyak pendapat ada yang mengatakan idealnya cukup 3-5 saham saja, ada juga yang mengatakan bahwa tergantung modal yang di­ miliki. Lagi­lagi memang tingkat idealnya kembali ke profil investor masing­masing. Yang jelas tentukan terlebih da­ hulu berapa jumlah saham yang menurut Anda “banyak” dan berpotensi menjadi saham “supermarket.” Dari situlah Anda bisa mengetahui jumlah ideal bagi diri Anda itu berapa saham. Tentunya jawaban setiap orang akan cenderung berbeda­beda mengikuti definisi “banyak” menurut pribadi masing ­masing.

Setelah ini, bagi Anda yang yang sudah menjadi seorang investor, coba tengok portofolionya. Lihat saham yang Anda miliki saat ini, apakah merupakan saham “supermarket”? Jika iya, maka tugas Anda adalah memikirkan bagaimana cara membuat portofolio menjadi ramping atau ideal kem­ bali.

Merampingkan saham “supermarket” dan menjadikan­ nya ideal kembali itu bisa sangat mudah jika saham yang Anda miliki dalam posisi sudah untung semua. Namun beda halnya jika saham­saham yang Anda miliki sedang dalam kondisi rugi, jika Anda mengalami hal itu maka Anda perlu meluangkan waktu untuk menimbang keputusan apa saja yang bisa diambil.

Misalnya saham yang Anda miliki merupakan saham bagus dan posisi cash Anda masih banyak, maka Anda bisa melakukan strategi average down atau tetap ditahan tenpa average down karena anda beranggapan bahwa untuk jangka panjang saham tersebut masih layak untuk disimpan, bisa jadi anda harus cut loss pada saham­saham yang ternyata secara fundamental me­ mang jelek atau secara teknikal ada indikasi down trend.

Ada banyak alternatif keputusan yang akan ada di dalam pikiran Anda ketika memiliki sebuah saham “supermarket.” Jadi, tetaplah fokus dengan jumlah ideal dalam membeli saham menurut versi Anda sendiri.

n-yorkcity.me


EmoticonEmoticon