Daya tahan uang dan kemerosotan uang kertas

alamsyah.me

Daya tahan uang dan kemerosotan uang kertas

Kita seringkali mendengar istilah dollar menguat ataupun melemah. Sebenarnya apa sih itu? Bagi Anda yang tidak berkecimpung dalam perdagangan mata uang, barangkali itu hal yang biasa saja dan tidak begitu berpengaruh. Sebenarnya, penguatan ataupun pelemahan mata uang negara adidaya tersebut sangat mempengaruhi perekonomian negara lain karena 60% penduduk bumi memakai mata uang USD.

Saya akan memberikan gambarannya seperti ini. Jika USD menguat, harga barang-barang yang diimpor ke negara kita akan semakin mahal dan industri di negara kita masih mengandalkan bahan baku dari impor. Jika dollar menguat, hal ini jelas sangat merugikan importir terutama industri-industri yang mengandalkan barang impor. Sebaliknya, itu akan sangat menguntungkan para eksportir. Misalkan, kemarin 1 USD = Rp8.500 dan sekarang 1 USD = Rp9.500. Bila kemarin sebuah industri mengimpor bahan baku senilai 1 juta USD, industri tersebut akan membayar 8,5 milyar rupiah. Jika mengimpor sekarang, berarti sang importir perlu mengeluarkan 9,5 milyar rupiah atau membayar 1 milyar rupiah lebih banyak untuk jumlah barang yang sama. Dengan biaya produksi yang meningkat ini, otomatis pihak industri akan menaikkan harga. Dan celakanya, konsumen yang akan menanggung akibatnya. Bagi para eksportir, penguatan USD akan membuatnya memiliki keuntungan yang semakin berlipat. Sebaliknya, ketika USD melemah dan rupiah (IDR) menguat, para eksportir akan merugi berlipat ganda. Hal itu desebabkan oleh harga barang produksi dalam negeri menjadi mahal sehingga akan sulit bersaing dan diterima pasar luar. Justru negara ini akan kebanjiran produk asing, terutama yang mata uangnya melemah.

Itulah fluktuasi uang kertas antara satu negara dengan negara lain. Akhir–akhir ini, dolar Amerika terlihat sangat merosot. Kalau setahun yang lalu kita masih membeli USD dengan nilai di atas sembilan ribu rupiah, tapi kini hanya di kisaran Rp8.500. Kekuatan mata uang bergantung pada ekonomi di negara yang menopangnya. Belakangan ini, harga barang barang impor di negara kita relatif lebih murah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena rupiah menguat.

Bila dibandingkan fluktuasi antara satu mata uang dengan mata uang lain, terkadang tidak bisa terukur karena mata uang yang dipakai sebagai acuan pun sebenarnya nilainya juga berfluktuasi. Misalkan kita ingin mengukur kekuatan rupiah terhadap USD. Tahun ini rupiah menguat dibandingkan USD karena 1 USD tahun lalu sekitar Rp9.500, sementara saat ini hanya berkisar Rp8.500. Ternyata meski USD menjadi patokan, kenyataannya USD juga menurun/melemah. Lalu apa pembandingnya? Tentu saja pembandingnya adalah EMAS yang sudah terbukti selama 5000 tahun peradaban manusia tidak pernah terkena inflasi atau zero inflation.

Nah, di samping ini saya ingin menyajikan grafik untuk mengukur kekuatan mata uang terhadap emas. Saya berharap, kita semua mampu memahami jawabannya. Daya beli mata uang benar-benar tidak mampu bersaing dengan emas.

Agar memudahkan kita membaca grafik, saya melakukan penyamaan nilai untuk semua mata uang dan emas pada 2002 dengan nilai 100. Ternyata setelah 9 tahun berjalan, nilai emas masih tetap perkasa pada nilai 100, sementara seluruh mata uang rata-rata 18,2% dari nilai awalnya. Dalam grafik ini, kemerosotan terburuk dialami oleh mata uang Inggris, Great Britain Pound (GBP), yaitu 13,4% dari nilai awalnya. USD (United States Dollar) menempati terburuk kedua, menjadi 15,7%. Kemudian, diikuti rupiah –IDR (Indonesia Rupiah)– 16,9%. Lalu, mata uang Uni Eropa (EUR) yang bernilai 20,8% dari nilai tahun 2002. Dan mata uang yang paling baik adalah Yen Jepang (YJP), masih bernilai 24,2%.

Pada tahun 2004, ada dua mata uang yang kinerjanya lebih baik dibandingkan emas, yaitu euro dan pound Inggris. Bahkan euro sempat bertengger di 101%, lebih tinggi 1% dibandingkan nilai emas. Namun, dalam jangka panjang, nasibnya juga sama saja seperti mata uang yang lainnya. Pada tahun 2008 ketika

terjadi krisis finansial di Amerika, hanya mata uang Yen yang terlihat meningkat tajam. Namun, lagi-lagi secara periode jangka panjang, semua mata uang itu nilainya merosot dibandingkan emas. Mata uang tetaplah ‘kertas’ yang tidak bisa bernilai seperti emas, nilainya terus merosot yang mengikuti fitrahnya sebagai kertas.


EmoticonEmoticon